Share this content on Facebook!
05 Nov 2017
Berbicara tentang kecantikan, adalah sebuah kata yang wanita sangat didambakan. Dulunya, Cleopatra, Ratu Mesir begitu agung dan menjadi simbol kecantikan di zamannya. Maka orang berlomba meniru gaya Cleopatra.

Di era Eropa modern, agar mendapat pinggang yang terlihat kecil dan ramping, para wanita rela terluka dengan korset yang sangat ketat. Begitu pula yang terjadi di China dan Jepang, sejak kecil Eve terpaksa memakai sepatu kecil sampai mereka harus berjinjit, hanya karena persepsi bahwa seorang wanita cantik dan terkesan bangsawan adalah wanita dengan kaki mungil.

Disadur dari sumber artikel - Siapa yang tidak ingin tampil cantik? Semua wanita pasti ingin terlihat cantik sempurna meski dengan berbagai alasan. Semisal, bagi seseorang yang memiliki wajah cantik akan mendapatkan berbagai kemudahan dalam beberapa hal mencari teman, pacar, suami idaman, dan juga kerja. Eksploitasi kecantikan juga menjadi sumber masalah. Banyak perusahaan hanya menerima karyawan dengan persyaratan fisik sebagai persyaratan utama. Tujuannya agar wanita ini bisa menarik banyak konsumen. Hal ini membuat wanita dengan kekurangan fisik akan merasa minder dan berusaha tampil cantik meski dengan jalan pintas.

Pengungkapan informasi dan global saat ini, kiranya semakin mengkonsolidasikan budaya konsumtif hanya untuk tujuan utama, terlihat cantik dan menawan. Jika dulu, seseorang merasa cantik saat bersih dengan baik, akhir-akhir ini dianggap tidak cukup. Bahkan konsep inner beauty, dianggap sebagai faktor pendukung belaka. Penampilan utama tetap prima.

Penyebaran arus informasi telah membangun masyarakat untuk percaya bahwa seseorang dikatakan cantik jika memiliki bentuk tubuh langsing, berkulit halus, hidung tajam, bibir seksi, dan bentuk wajah cerah yang sempurna. Untuk mendapatkan semuanya, tak sedikit Eve mencoba menggunakan produk polishing, mulai dari memakai pemutih wajah, pelangsingan penggunaan narkoba, menggunakan jasa salon kecantikan dan dokter bahkan memilih jalan pintas meski menyakitkan yaitu melalui operasi plastik.

Namun, tahukah anda bahwa persepsi indah sebenarnya dibentuk oleh industri kecantikan? Alasannya jelas, karena produk mereka laku di pasaran. Lihatlah iklan kosmetik, bagaimana mereka secara besar-besaran mengeksploitasi bintang iklan melalui kecantikan, ramping, putih dan seksi. Bagi masyarakat Indonesia, cantik identik dengan putih, berambut lurus, tinggi dan seksi. Maka diprediksi, produk whitening ini bertebaran di pasaran. Ironisnya, konsumen sering mengabaikan keamanan produk kecantikan. Padahal jika produk mengandung merkuri atau zat berbahaya lainnya, akan menimbulkan efek samping bagi kulitnya.

Melihat fenomena ini, siapa sebenarnya pihak yang paling diuntungkan. Jawabannya tentu bukan wanita depresi agar cantik menjalani operasi plastik. Karena kecantikan yang dimilikinya tidak sebanding dengan pengorbanan fisik yang harus diterima saat melakukan operasi. Belum lagi sifat adiktif operasi yang membuat pelakunya harus berulang kali datang untuk mendapatkan hasil terbaik. Hilangnya bahan juga tentunya tak kalah banyak.

Konstruksi kecantikan yang dibangun dengan sengaja, sangat menguntungkan industri kecantikan dan praktisi bedah plastik. Karena semakin banyak wanita yang tertekan tentang bentuk tubuh mereka, hal itu akan membawa manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Wanita yang mengejar kecantikan instan, sebenarnya hanya menjadi korban konstruksi kecantikan yang dibuat oleh pihak-pihak terkait.

Meskipun epidemi ini telah menjamur ke Indonesia, ia tetap memiliki keasliannya dan tetap bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan kepadanya, agar tidak menjadi korban kapitalisme berikutnya. Menjaga dan menjaga kecantikan itu perlu tapi belum tentu mengubah bentuk yang sudah ada. Terima kasih Tuhan untuk apa yang lebih baik.

My Inube


Comments

There isn't any comment in this page yet!

Do you want to be the first commenter?


New Comment

Full Name:
E-Mail Address:
Your website (if exists):
Your Comment:
Security code: